Berita

Login Admin Hubungi

Memandang Usia Tua

Memandang Usia Tua


Memandang Usia Tua

“Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum tiba hari-hari yang malang dan mendekat tahun-tahun yang kaukatakan: ‘Tak ada kesenangan bagiku di dalamnya!’” (Pengkhotbah 12:1).

Sang pengkhotbah menggunakan beberapa kiasan tentang usia tua, yang masing-masing menggambarkan kemunduran fisik yang menyertai apa yang kita sebut secara halus “tahun-tahun keemasan.”

Salomo berbicara tentang waktu yang menghampiri dalam kata-kata “Sebelum matahari dan terang, bulan dan bintang-bintang menjadi gelap” (Pkh. 12:2). Jelas bahwa cahaya mentari dan rembulan tidak menjadi suram saat kita tua, tetapi orang yang memiliki katarak di matanya mengetahui betapa kabur sudah pandangan mereka. Ia lebih jauh menulis tentang waktu ketika “Penjaga-penjaga rumah gemetar, dan orang-orang kuat membungkuk” (ay. 3)—sebuah gambaran tentang tungkai yang gemetaran seiring usia tua atau kekhawatiran yang biasa menghinggapi orang-orang tua. Selanjutnya, waktunya akan datang ketika “perempuan-perempuan penggiling berhenti karena berkurang jumlah- nya” (ay. 3). Secara literal, kata-kata tersebut merujuk kepada para wanita yang sehari-hari bekerja menggiling gandum, yang karena fisiknya melemah tidak dapat lagi menjalankan tugasnya. Dalam arti kiasan, kata-kata tersebut kelihat- annya menunjuk pada gigi-gigi yang ompong dan berkurang jumlahnya. (Pada zaman Timur Dekat kuno, gigi orang-orang secara bertahap patah atau tanggal karena kerikil yang terdapat pada makanan mereka.)

“Suara menjadi seperti kicauan burung” (ay. 4). Betapa seringnya orang-orang tua menderita kekurangan tidur! Suara yang kecil sekalipun dapat menembus pendengaran mereka yang redup dan membangunkan mereka. Selain itu, “juga orang menjadi takut tinggi, dan ketakutan ada di jalan” (ay. 5). Hal yang tak pernah mengganggu bagi orang muda, menjadi beban pikiran di usia tua. Sekarang “pohon badam berbunga” (ay. 5), kuntum-kuntum bunga putih yang melambangkan rambut yang memutih. “Belalang menyeret dirinya dengan susah payah” (ay. 5). Orang-orang Timur Dekat kuno memandang buah Cap- paris Spinosa (buah capers) sebagai obat perangsang seksual, tetapi saat usia tua menghampiri bahkan buah mujarab itu pun tak mempan.

Adanya gejala-gejala penuaan yang jelas seperti itu seyogianya membuat orang muda merenung. Objek perenungannya dapat memiliki dua atau tiga makna sekaligus. Tergantung dari penempatan huruf hidup di antara konsonan (bahasa Ibrani Alkitab tidak memiliki huruf hidup), orang muda harus mencamkan di dalam pikirannya tentang (a) Pencipta (bore’eka) mereka, menghormati-Nya di dalam dan dengan kemudaan mereka; (b) sumur (be’ereka) mereka, analogi untuk istri mereka sebagai obyek seksual yang sensualitasnya akan pudar; (c) lubang (bor’ka), istilah lain untuk kuburan, “rumah kekal” (ay. 5) mereka. Nasihat yang berat namun praktis. 

Hope Chanel Indonesia

TV Resmi GMAHK UIKB

Hope Chanel Indonesia.

Tonton Videonya

Wilayah UIKB

Map of SSD territories

Berita

Hati yang Terluka

Hati yang Terluka

“Hatiku menjerit melihat keadaan Moab” (Ye saya 16:11).

Merayakan Percintaan

Merayakan Percintaan

“Tangan kirinya ada di bawah kepalaku, tangan kanannya memeluk aku” (Kidung Agung 2:6).

Beberapa penulis Kristen injili berpendapat bahwa…


Baca Selengkapnya...

Untuk Kekasih

Untuk Kekasih...

“Kiranya ia mencium aku dengan kecupan! Karena cintamu lebih nikmat dari pada anggur” (Kidung Agung 1:2).

Bacaan renungan macam apa yang ditulis…


Baca Selengkapnya...

Kesimpulan Semuanya

Kesimpulan Semuanya