Berita

Login Admin Hubungi

Lagi, Mazmur yang Mengutuk

Lagi, Mazmur yang Mengutuk


Lagi, Mazmur yang Mengutuk 

 

“Orang-orang yang membenci aku tanpa alasan lebih banyak dari pada rambut di kepalaku... Biarlah mereka dihapuskan dari kitab kehidupan, janganlah mereka ter- catat bersama-sama dengan orang-orang yang benar!” (Mazmur 69:5-29).

Apakah arti kata terakhir dalam judul renungan kita hari ini—“Mengutuk”? Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kita menemukan kata kerja “mengutuk” artinya mengatakan (mengenakan) kutuk, memohon kesusahan atau bencana menimpa seseorang. Dan terdapat cukup banyak syair semacam itu di dalam Mazmur. Dalam gejolak emosi mereka, para pemazmur menyalurkan perasaan mereka, berharap bukan yang terbaik tapi yang terburuk menimpa lawan-lawan mereka. Sebenarnya kita semua juga barangkali pernah meng- alami perasaan-perasaan seperti itu.

Mengucap berkat atau kutuk di dalam masyarakat Timur Dekat kuno adalah hal yang serius, karena ada anggapan bahwa akibat yang diharapkan itu akan benar-benar terjadi. Ini berarti bahwa berkat atau kutuk adalah contoh-contoh bahasa performatif. Asumsinya adalah bahwa ada kuasa di dalam kata-kata— ucapkan dan tunggulah sementara berkat atau kutuk menjadi kenyataan. Mengutuk di zaman Alkitab juga hal yang serius—lebih serius ketimbang sumpah serapah seorang tukang kayu kepada martil yang meleset dan mengenai jempol tangannya. Tukang kayu itu tahu di dalam hatinya bahwa kutukannya tidak akan berakibat apa-apa.

Penulis Mazmur 69 sedang frustrasi. Segala sesuatunya tidak berjalan sesuai keinginannya. Nampaknya lawan-lawannya berada di atas angin. “Dengan kecapi peminum-peminum menyanyi tentang aku” (ay. 13). Di manakah Allah? “Janganlah sembunyikan wajah-Mu..., sebab aku tersesak; segeralah menjawab aku!” (ay. 18). “Biarlah mereka dihapuskan dari kitab kehidupan, janganlah mere- ka tercatat bersama-sama dengan orang-orang yang benar!” (ay. 29).

Akan tetapi... bagaimana bila harapan pemazmur itu disandingkan dengan ucapan Yesus di kayu salib: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk. 23:34).

Kontras ini terutama membentur kita karena banyak orang yang meng- anggap Mazmur 69 sebagai mazmur mesianik karena ayat 21 yang berbunyi: “Pada waktu aku haus, mereka memberi aku minum anggur asam,” yang terjadi di Golgota. Tapi dari keseluruhan konteks Mazmur 69, kata-katanya tidaklah seirama dengan ucapan Yesus. Bahkan narator mengakui bahwa, “kesalahan-kesalahanku tidak tersembunyi bagi-Mu” (ay. 6).

Pelampiasan emosi dari pemazmur ini dapat dimengerti, tapi sungguh berlawanan dengan ajaran dan teladan Yesus—yang memang lebih mudah untuk diucapkan ketimbang dilakukan, namun itulah yang harus dicapai oleh seorang Kristen. 

 

Hope Chanel Indonesia

TV Resmi GMAHK UIKB

Hope Chanel Indonesia.

Tonton Videonya

Wilayah UIKB

Map of SSD territories

Berita

Penyombong

Penyombong

“Karena tiga hal bumi gemetar, bahkan, k (Amsal 30:21).

Selama abad ke-13 Horatio Alger telah menulis 135 novel. Satu alur cerita yang menjadi hampir identik…


Baca Selengkapnya...

Ucapan yang Menyakitkan

Ucapan yang Menyakitkan

 “Orang yang menyanyikan nyanyian untuk orang yang kecewa adalah seperti orang yang menanggalkan baju di musim dingin, dan seperti cuka pada luka” ( Amsal 25:20 ).

Kehancuran Karena Dosa

Kehancuran Karena Dosa

“Padahal mereka menghadang darahnya sendiri dan mengintai nyawanya sendiri” (Amsal 1:18).

Salah satu tema besar di dalam kitab Amsal adalah…


Baca Selengkapnya...

Bimbingan Orang Tua

Bimbingan Orang Tua

“Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu, sebab karangan bunga yang indah itu bagi kepalamu, dan suatu kalung bagi lehermu”…


Baca Selengkapnya...
Lihat Semua Berita